Akhir bulan Mei lalu, sekitar 200.000 orang kumpul dan menikmati suasana Jepang di Blok M, Jakarta Selatan. ‘Little Tokyo Ennichisai Blok M’ terlihat sangat ramai dan penuh kesenangan oleh pengunjung.
Namun, ‘Little Tokyo Ennichisai Blok M’ ini diputuskan terakhir dengan kali ini dan tidak ada lagi. Alasannya: uang pelicin besar yang diminta oleh aparat.
Saya kira reformasi aparatur di DKI Jakarta sedang berjalan dan percaya makin membaik pada saat ini. Ternyata, masalah klasik "pungli" yang pasti tidak enak bagi pihak Indonesia masih hidup. Sangat kaget.
Acara ‘Little Tokyo Ennichisai Blok M’ Dihentikan dan Tidak Akan Ada Lagi
Apakah pernyataan ini oleh panitia pesta Ennichisai ini berlebihan? Apakah mereka bohong? Apakah dianggap orang asing menjelekkan Indonesia dengan ini? Jika dirasakan demikian dan ini bukan fakta, saya mohon maaf sebesar-besarnya.
Pesta ini dikembangkan oleh para sukarelawan tanpa dana dari pemerintah baik Indonesia maupun Jepang hanya untuk mengembangkan hubungan persahabatan antara Indonesia dan Jepang. Hanya itu saja. Bukan untuk menguasai Indonesia oleh Jepang, atau mencari keuntungan sebesar mungkin dari pihak Indonesia oleh pihak Jepang. Iya, tujuannya murni persahabatan.
Namun, upaya peningkatkan persahabatan antara Indonesia dan Jepang dihentikan karena pungli oleh aparat. Saya sangat mengharapkan ini bukan karena pihak aparat Indonesia tidak mau bersahabat dengan pihak Jepang.
Berita sedih. Apakah kami orang asing harus tetap diam jika mengalami hal-hal yang tidak wajar seperti ini karena orang asing yang diperbolehkan berdomisili di Indonesia? Siapa yang senang menganggu upaya persahabatan antara Indonesia dan Jepang?
Kami tidak mau diam lagi.
Tanggapan, Ide, Pemikiran, dan Catatan. Indonesia, Jepang, Asia, dan Dunia. Lokal, Global, dan Glokal.
10.6.14
3.6.14
Hebat dan Biasa
Kampanye Pemilihan Presiden RI mulai pada tanggal 4 Juni 2014. Dua pasangan calon presiden dan wakil presiden akan bertanding untuk menuju kursi RI-1.
Visi dan misi kedua pasangan umumnya tidak jauh berbeda. Dari segi kacamata orang asing, itu sudah terasa aman. Artinya, Indonesia tidak mungkin berubah arahan kebijakan dan strategi pembangunan yang jauh berbeda daripada apa yang sedang dilakukan oleh Presiden SBY.
Maka, tentu saja perdebatan tentang suatu kebijakan antara kedua pasangan tidak muncul. Satu yang mengangkat suatu issu kemiskinan, yang lain juga ikut. Seperti pemilihan presiden sebelumnya, syukur atau tidak, belum terlihat perbedaan pendapat yang jelas tentang kebijakan pembangunan antara kedua pihak.
Dengan demikian, seperti pemilihan presiden yang lalu, rakyat memilih Presiden dengan suatu feeling, imej dan perasaannya. Ini sudah ditangkapi oleh kedua pasangan dengan imaj yang sangat berbeda.
Pasangan Prabowo-Hatta berusaha memperlihatkan imeji kepemimpinan yang hebat dan kuat terhadap rakyat. Sambil memanfaatkan pemimpin yang bersejarah atau tempat bersejarah, mereka menyampaikan kepemimpinan Indonesia adalah seperti Bung Karno, dan Pak Harto. Pemimpin hebatlah yang dapat melindungi dan memelihara rakyat secara saksama.
Sedangkan, pasangan Jokowi-Kalla berusaha memperlihatkan imeji orang biasa yang sederhana dan merakyat. Sambil memanfaatkan pergaulan rakyat kecil dan pakaian/kendaraan sederhana, mereka menyampaikan kepemimpinan Indonesia bukan lagi orang khusus tetapi orang biasa yang merasakan dan memahami betul tentang rakyat. Bukan pemimpin yang mengatur, tetapi rakyat juga harus menyadari peranan masing-masing. Ini imeji yang mereka sampaikan.
Di sini terinspirasi dua kata. Hebat dan Biasa. Pemilihan Presiden kali ini adalah pemilihan kepemimpinan hebat atau kepemimpinan biasa. Dengan kata lain, buat Republik Indonesia yang telah demokratisasi, gaya kepemimpinan mana yang sesuai dengan zaman ini, yang hebat atau yang biasa?
Ada pertanyaan. Apakah Presiden merupakan penguasa atau pekerja?
Umumnya politisi berusaha mendapat kekuasaan. Kekuasaan berdasar dari kehebatan sebagai bos kelompok orang politik. Dengan kekuasaan ini, RI-1 seolah-olah bisa melakukan apa saja. Maka banyak politisi ingin menjadi RI-1. Atau, banyak politisi ingin menempel pada politisi calon presiden yang kuat untuk mendapat suatu imbalan terhadap dukungannya. Ketidategasan beberapa Parpol dalam penentuan dukungan terhadap calon presiden dapat terbaca dalam konteks tersebut.
Sedangkan, Presiden harus bekerja untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh rakyat. Ini sama juga dengan kepala daerah atau kepala desa, hanya berbeda luas wilayahnya. Kalau Presiden bekerja, ini memaksakan bawahannya juga harus bekerja. Tidak bisa lagi hanya menunggu laporan dari bawah. Presiden yang bekerja tidak ada waktu untuk memperkaya diri karena kerja terus. Bawahannya juga tidak sempat untuk memperkaya diri karena kerja terus. Kadang-kadang orang top yang bekerja keras tidak disenangi oleh bawahannya.
Pemilihan Presiden kali ini tidak menimbulkan perbedaan yang tajam di dalam visi dan misi, atau arahan kebijakan pembangunan. Namun, sangat berbeda tentang gaya kepemimpinan yang mempengaruhi cara kerja bawahannya. Politisi elit sangat kuatir jika orang yang tidak memahami tata cara dan budaya perlilaku mereka menjadi atasan. Mungkin sebagian elit politik dan kalangan terhormat sudah ketahuan ancaman ini. Untuk melindungi budaya elit mereka, mereka berusaha menjatuhkan orang biasa dengan berbagai caranya.
Kalangan terhormat ini bukan hanya elit politik, tetapi juga bintang film/TV yang selalu dilindungi oleh politisi, pejabat dan pengawai pemerintah, tokoh masyarakat yang menganggap dihormati oleh rakyat. Orang-orang hebat mulai takut ditekankan oleh orang-orang biasa.
Bila Jokowi-Kalla menang, ini bukan kemenangan Parpol yang mendukung Jokowi-Kalla. Mereka elit politik juga akan menghadapi ancaman yang sama. Apakah elit politik dapat berubah diri atau tidak?
Ini adalah suatu fenomena yang sangat menarik dalam proses pengembangan ekonomi sosial Indonesia. Dari hebat ke biasa, dari raja ke manajer, dari peguasa ke pekerja.
Meskipun Prabowo-Hatta menang, arus besar ini sulit berhenti kecuali penguasa memakai kekuasaannya secara penuh untuk melindungi budaya elit politik yang tradisional.
Sangat menarik Indonesia yang sedang berubah.
Visi dan misi kedua pasangan umumnya tidak jauh berbeda. Dari segi kacamata orang asing, itu sudah terasa aman. Artinya, Indonesia tidak mungkin berubah arahan kebijakan dan strategi pembangunan yang jauh berbeda daripada apa yang sedang dilakukan oleh Presiden SBY.
Maka, tentu saja perdebatan tentang suatu kebijakan antara kedua pasangan tidak muncul. Satu yang mengangkat suatu issu kemiskinan, yang lain juga ikut. Seperti pemilihan presiden sebelumnya, syukur atau tidak, belum terlihat perbedaan pendapat yang jelas tentang kebijakan pembangunan antara kedua pihak.
Dengan demikian, seperti pemilihan presiden yang lalu, rakyat memilih Presiden dengan suatu feeling, imej dan perasaannya. Ini sudah ditangkapi oleh kedua pasangan dengan imaj yang sangat berbeda.
Pasangan Prabowo-Hatta berusaha memperlihatkan imeji kepemimpinan yang hebat dan kuat terhadap rakyat. Sambil memanfaatkan pemimpin yang bersejarah atau tempat bersejarah, mereka menyampaikan kepemimpinan Indonesia adalah seperti Bung Karno, dan Pak Harto. Pemimpin hebatlah yang dapat melindungi dan memelihara rakyat secara saksama.
Sedangkan, pasangan Jokowi-Kalla berusaha memperlihatkan imeji orang biasa yang sederhana dan merakyat. Sambil memanfaatkan pergaulan rakyat kecil dan pakaian/kendaraan sederhana, mereka menyampaikan kepemimpinan Indonesia bukan lagi orang khusus tetapi orang biasa yang merasakan dan memahami betul tentang rakyat. Bukan pemimpin yang mengatur, tetapi rakyat juga harus menyadari peranan masing-masing. Ini imeji yang mereka sampaikan.
Di sini terinspirasi dua kata. Hebat dan Biasa. Pemilihan Presiden kali ini adalah pemilihan kepemimpinan hebat atau kepemimpinan biasa. Dengan kata lain, buat Republik Indonesia yang telah demokratisasi, gaya kepemimpinan mana yang sesuai dengan zaman ini, yang hebat atau yang biasa?
Ada pertanyaan. Apakah Presiden merupakan penguasa atau pekerja?
Umumnya politisi berusaha mendapat kekuasaan. Kekuasaan berdasar dari kehebatan sebagai bos kelompok orang politik. Dengan kekuasaan ini, RI-1 seolah-olah bisa melakukan apa saja. Maka banyak politisi ingin menjadi RI-1. Atau, banyak politisi ingin menempel pada politisi calon presiden yang kuat untuk mendapat suatu imbalan terhadap dukungannya. Ketidategasan beberapa Parpol dalam penentuan dukungan terhadap calon presiden dapat terbaca dalam konteks tersebut.
Sedangkan, Presiden harus bekerja untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh rakyat. Ini sama juga dengan kepala daerah atau kepala desa, hanya berbeda luas wilayahnya. Kalau Presiden bekerja, ini memaksakan bawahannya juga harus bekerja. Tidak bisa lagi hanya menunggu laporan dari bawah. Presiden yang bekerja tidak ada waktu untuk memperkaya diri karena kerja terus. Bawahannya juga tidak sempat untuk memperkaya diri karena kerja terus. Kadang-kadang orang top yang bekerja keras tidak disenangi oleh bawahannya.
Pemilihan Presiden kali ini tidak menimbulkan perbedaan yang tajam di dalam visi dan misi, atau arahan kebijakan pembangunan. Namun, sangat berbeda tentang gaya kepemimpinan yang mempengaruhi cara kerja bawahannya. Politisi elit sangat kuatir jika orang yang tidak memahami tata cara dan budaya perlilaku mereka menjadi atasan. Mungkin sebagian elit politik dan kalangan terhormat sudah ketahuan ancaman ini. Untuk melindungi budaya elit mereka, mereka berusaha menjatuhkan orang biasa dengan berbagai caranya.
Kalangan terhormat ini bukan hanya elit politik, tetapi juga bintang film/TV yang selalu dilindungi oleh politisi, pejabat dan pengawai pemerintah, tokoh masyarakat yang menganggap dihormati oleh rakyat. Orang-orang hebat mulai takut ditekankan oleh orang-orang biasa.
Bila Jokowi-Kalla menang, ini bukan kemenangan Parpol yang mendukung Jokowi-Kalla. Mereka elit politik juga akan menghadapi ancaman yang sama. Apakah elit politik dapat berubah diri atau tidak?
Ini adalah suatu fenomena yang sangat menarik dalam proses pengembangan ekonomi sosial Indonesia. Dari hebat ke biasa, dari raja ke manajer, dari peguasa ke pekerja.
Meskipun Prabowo-Hatta menang, arus besar ini sulit berhenti kecuali penguasa memakai kekuasaannya secara penuh untuk melindungi budaya elit politik yang tradisional.
Sangat menarik Indonesia yang sedang berubah.
27.2.14
Soto Kudus yang Asli
Sebelum makan Soto Kudus yang asli di Kudus, saya tidak bisa meninggalkan Kudus, maka sopir saya antar saya ke pintu masuk suatu pasar. Ini pintu masuknya.
Kami masuk warung Soto Kudus yang bernama Bu Ramidjan. Semua warung bentuknya sama. Di depan ada kounternya dan di depannya ada rumpah-rumpah atau jodohnya Soto Kudus. Pemasak Soto menghadapi tamu dan membuat Soto sambil dengar pesan rumpah apa yang dimasukin ke Soto.
Di dalamnya, ada banyak warung Soto Kudus. Kanan kiri semuanya warung Soto Kudus. Tidak ada warung yang baru. Semuanya sudah bertahun-tahun jual Soto Kudus di sini.
Kami masuk warung Soto Kudus yang bernama Bu Ramidjan. Semua warung bentuknya sama. Di depan ada kounternya dan di depannya ada rumpah-rumpah atau jodohnya Soto Kudus. Pemasak Soto menghadapi tamu dan membuat Soto sambil dengar pesan rumpah apa yang dimasukin ke Soto.
Pada waktu pesan, saya ditanya oleh pemasak. "Mau ayam atau kerbau?" Eeh, bukankah Soto Kudus adalah stotoayam, bukan? Kerbau? Ternyata, soto di Kudus umumnya pakai kerbau akalu aslinya. Maka saya pesan kerbau. Nasi Soto Kerbau Kudus. kalau tidak salah, Coto Makassar juga awalnya masakan daging dan joroan kerbau.
Takutnya daging kerbau yang keras. Ternyata, itu tidak keras, malah lunak dan enak. Nasi Soto Kerbau Kudus ini luar biasa enaknya. Saya belum pernah makan Soto yang begitu enak selama hampir 30 tahun pergaulan dengan Indonesia. Hanya untuk makan ini saja pun, saya ingin datang ke Kudus.
Aawalnya, ditanya "Mau Soto atau PIndan?", lalu "Mau ayam atau kerbau?" ditanya lagi. Sopir saya yang mengantar saya ke sini pilih nasi pindan kerbau, seperti foto dibawah ini.
Mungkin, kiranya tidak ada Soto Kudus yang pakai daging kerbau di Jakarta. Mungkin jarang ada Warung Soto yang bersedia pindan juga.
Di samping warung ini, ada warung bernama Pak Ramidjan. Di BU Ramidjan, Bapak yang tua jadi pemasak, sedangkan di Pak Ramidjan oleh Ibu yang tua. Bagaimana hubungan ini antara Bu Ramidjan dan Pak Ramidjan? Bapak pemasak hanya senyum-senyum saja dan akhirnya belum bisa dapat jawaban yang pasti.
25.2.14
Nasi Opor di Kudus
Pada waktu perjalanan dinas ke Semarang, kebetulan sempat ke Kudus juga. Kudus mengalami kebanjiran sebelum saya ke sana, dan jalan utamanya sedang diperbaiki.
Kalau Kudus, saya harus makan Soto Kudus yang asli. Soto adalah masakan Indonesia terfavorite buat saya. Dalam berbagai soto, topnya soto kudus buat saya.
Namun, karena saya makan Soto Ayam Bangong di Semarang tadi malam, maka sopir saya usul untuk makan opor ayam. Opor ayam ini dengan ayam yang dipotong-potong, dan rasanya enak, katanya.
Ini adalah sendok alam. Tentu, rumah makan ini ada sendok dan galpu, tapi pakai sendok alam ini rasanya enak juga ya.
Namun, saya tidak mau selesai makan siang dengan nasi opor ini. Harus makan Soto Kudus yang asli. Maka, menuju makan siang kedua.
Kalau Kudus, saya harus makan Soto Kudus yang asli. Soto adalah masakan Indonesia terfavorite buat saya. Dalam berbagai soto, topnya soto kudus buat saya.
Namun, karena saya makan Soto Ayam Bangong di Semarang tadi malam, maka sopir saya usul untuk makan opor ayam. Opor ayam ini dengan ayam yang dipotong-potong, dan rasanya enak, katanya.
Namanya Nasi Opor Sunggingan. Tempatnya sederhana dan tentu non-AC.
Inilah Nasi Opor. Betul, ayamnya telah dipotong-potong, bersama tempe dan tahu. Ada yang hijau sebelah kanan. Ini untuk apa?
Ini adalah sendok alam. Tentu, rumah makan ini ada sendok dan galpu, tapi pakai sendok alam ini rasanya enak juga ya.
Namun, saya tidak mau selesai makan siang dengan nasi opor ini. Harus makan Soto Kudus yang asli. Maka, menuju makan siang kedua.
2.2.14
Coklat Sulawesi oleh Pencinta Coklat Jepang
Coklat Sulawesi tidak lagi dianggap sebagai coklat murahan dan bermutu rendah. Teman saya, Mr. Yoshino, president director Dari K inc. in Kyoto, Jepang, membuat coklat yang bermutu tinggi, mahal dan sangat enak. Ini sudah dinikmati oleh masyarakat Jepang.
Dari K (in English)
Bahan bakunya 100 persen coklat dari Sulawesi, ambil dari petani kakao di Polewli, Sulawesi Barat. Kakaonya penuh fermentasi dan disiapkan untuk Dari K. Menurut Mr. Yoshino, awalnya para petani sulit menerima tawaran untuk menyediakan kakao fermentasi. Namun, sedikit demi sedikit mereka mamahami.
Para petani sudah tahu hasil kakao mereka menjadi apa. Sudah tahu coklat buatan Dari K yang dinikmati oleh masyarakat Jepang itu bentuknya bagaimana. Akhirnya, para petani juga mencoba bikin produk olahan kakao sendiri seperti minuman coklat sederhana di Polewali.
Mr. Yoshino pernah menawarkan produk coklatnya yang terdiri dari 100 persen kakao Indonesia untuk salah satu perusahaan penerbangan BUMN Indonesia sebagai makanan kecil executive classnya, namun ditolak. Sayang sekali, ini made in Indonesia, berbeda seperti godiva yang bukan made in Indonesia.
Mr. Yoshino memiliki rencana memdirikan pabrik pengolahan coklat di Sulawesi. Pada masa akan datang dia bermimpi mengembangkan chocolatier orang Indonesia yang dapat membuat coklat bermutu tinggi dan membuka outlet Dari K di Sulawesi oleh chocolatier Indonesia.
Semoga mewujudkan mempi Mr. Yoshino dan Dari K untuk meningkatkan nama baik dan kebangaan Sulawesi.
Silahkan membaca artikel berikut ini juga. Ini ditulis oleh teman saya, Pak Richard.
Coklat Sulawesi Masuki Pasar Jepang
Dari K (in English)


Bahan bakunya 100 persen coklat dari Sulawesi, ambil dari petani kakao di Polewli, Sulawesi Barat. Kakaonya penuh fermentasi dan disiapkan untuk Dari K. Menurut Mr. Yoshino, awalnya para petani sulit menerima tawaran untuk menyediakan kakao fermentasi. Namun, sedikit demi sedikit mereka mamahami.
Para petani sudah tahu hasil kakao mereka menjadi apa. Sudah tahu coklat buatan Dari K yang dinikmati oleh masyarakat Jepang itu bentuknya bagaimana. Akhirnya, para petani juga mencoba bikin produk olahan kakao sendiri seperti minuman coklat sederhana di Polewali.
Mr. Yoshino pernah menawarkan produk coklatnya yang terdiri dari 100 persen kakao Indonesia untuk salah satu perusahaan penerbangan BUMN Indonesia sebagai makanan kecil executive classnya, namun ditolak. Sayang sekali, ini made in Indonesia, berbeda seperti godiva yang bukan made in Indonesia.

Mr. Yoshino memiliki rencana memdirikan pabrik pengolahan coklat di Sulawesi. Pada masa akan datang dia bermimpi mengembangkan chocolatier orang Indonesia yang dapat membuat coklat bermutu tinggi dan membuka outlet Dari K di Sulawesi oleh chocolatier Indonesia.
Semoga mewujudkan mempi Mr. Yoshino dan Dari K untuk meningkatkan nama baik dan kebangaan Sulawesi.
Silahkan membaca artikel berikut ini juga. Ini ditulis oleh teman saya, Pak Richard.
Coklat Sulawesi Masuki Pasar Jepang
1.1.14
Deklarasi Katalisator 2014
SELAMAT TAHUN BARU 2014 !
Semoga tahun ini menjadi tahun yang bagus untuk semua.
Semoga tahun ini semua orang di dunia ini merasa bahagia yang lebih besar daripada tahun lalu.
Untuk itu, kita melakukan sesuatu yang konkret dari hal-hal yang kecil.
Melakukan hal-hal yang baik untuk seoarng, minimum satu hal dalam satu hari.
Jika dibantu oleh seseorang, membalas membantu seseorang dengan dua kali lipat lebihnya.
Minimum sekali sehari, senyum kepada seseorang.
Tidak lupa masyarakat Fukushima dan Tohoku sebagai kampung halaman saya.
Memikirkan secara dalam tentang orang-orang lokal di Jepang dan seluruh dunia, dan mencari harapan untuk masa depan.
Menjadi orang yang menyambung antara masyarakat lokal dan masyarakat lokal, produk dan aksi, generasi dan generasi, kegembiraan dan kegembiraan, dan kebahagiaan dan kebahagiaan.
Menjadi katalisator profesional.
Semoga tahun ini menjadi tahun yang bagus untuk semua.
Semoga tahun ini semua orang di dunia ini merasa bahagia yang lebih besar daripada tahun lalu.
Untuk itu, kita melakukan sesuatu yang konkret dari hal-hal yang kecil.
Melakukan hal-hal yang baik untuk seoarng, minimum satu hal dalam satu hari.
Jika dibantu oleh seseorang, membalas membantu seseorang dengan dua kali lipat lebihnya.
Minimum sekali sehari, senyum kepada seseorang.
Tidak lupa masyarakat Fukushima dan Tohoku sebagai kampung halaman saya.
Memikirkan secara dalam tentang orang-orang lokal di Jepang dan seluruh dunia, dan mencari harapan untuk masa depan.
Menjadi orang yang menyambung antara masyarakat lokal dan masyarakat lokal, produk dan aksi, generasi dan generasi, kegembiraan dan kegembiraan, dan kebahagiaan dan kebahagiaan.
Menjadi katalisator profesional.
16.11.13
Topeng Monyet
Pada Oktober yang lalu, topeng monyet di pinggir jalan di Jakarta mulai dilarang. Alasannya penyakit yang berasal dari monyet, perlindungan binatang, dan menambah macet.
Kapan mulai topeng monyet di Indonesia? Menurut beberapa sumber, ada catatan tentang topeng monyet di dalam buku berbahasa Belanda pada abad ke-19. Topeng monyet umumnya dimainkan di Jabar dan Jatim, dan jarang di luar Jawa. Topeng monyet hampir punah pada 1980-an, namun muncul kembali. Dulu topeng monyet keliling kampung dan saat ini lebih fokus ke tempat peramaian di kota termasuk pinggir jalan.
Saya sendiri punya kenangan tentang topeng monyet. Waktu tinggal di Makassar pada tahun 1997, kami menikmati pertunjukan topeng monyet di halaman rumah saya. Anak-anak teman kami dipanggil dan bersama-sama nonton itu.
Saya melihat tukang topeng monyet yang lewat di depan rumah saya, dan minta main di halaman rumah saya. Saya kunjungi rumah tukang topeng monyet. Mereka berasal dari Jawa dan tinggal di rumah sederhana yang berlokasi bagian pusat kota Makassar waktu itu.
Di Jepang juga ada topeng monyet. Topeng monyet di Jepang sudah dikenal sejak abad ke-12, zaman Kamakura. Topeng monyet ini awalnya berfungsi sebagai seni syukuran atau seni sumbayan pada waktu Tahun Baru. Namun, lama ke lamaan, ini dimainkan kapan saja dan keliling dari kampung ke kampung.
Topeng monyet di Jepang pernah habis pada waktu pertumbuhan ekonomi tinggi, sekitar pertengahan tahun 1960-an. Memang, tukang topeng monyet memainkan itu untuk nafka hidup mereka. Namun, ada seorang folkloris, Mr. Miyamoto, menangkap arti dan makna khusus secara folkloristis di dalam topeng monyet, dan bergerak untuk menghidupkan kembali topeng monyet ini. Akhirnya, kelompok topeng monyet direhabilitasikan di Yamaguchi pada tahun 1978. Miyamoto mencoba kontak Pusat Kajian Monyet di Universitas Kyoto untuk memperdalam fungsi dan makna topeng monyet secara ilmiah.
Sambil melihat larangan topeng monyet di Jakarta, saya ingat sejarah topeng monyet di Jepang. Banyak hal-hal yang tradisional hilang di Jepang termasuk topeng monyet pada waktu pertumbuhan ekonomi tinggi. Indonesia juga demikian. Makin baik taraf hidup masyarakat, makin banyak pendapat untuk perlindungan binatang. Ini juga sama antara Jepang dan Indonesia.
Apakah ada upaya melihat dan meneliti topeng monyet dari segi ilmu budaya atau folklositis? Mungkin baik tukang topeng monyet maupun masyarakat hanya melihat topeng monyet sebagai alat penghasilan uang.
Topeng monyet di Jepang saat ini sudah cukup dikomersialisasikan dan menjadi kelompok hiburan profesional seperti Pasukan Monyet Nikko (Nikko Saru Gundan di dalam bahasa Jepang). Apakah jalan keluar seperti ini di Indonesia?
Di Jepang, tukang topeng monyet berasal dari kalangan paling bawah yang kena diskriminasi dari masyarakat lain. Mereka disingkirkan dari pekerjaan biasa dan terpaksa memainkan topeng monyet untuk hidup. Di Indonesia, sebenarnya siapakah tukang topeng monyet? Berasal dari mana?
Saya belum yakin apakah mereka juga berasal dari kalangan yang dilupakan dari masyarakat lain. Bersama ini, saya juga sedang pikir-pikir di mana ada arti dan nilai secara kultural dan folkloristis untuk menjaga tradisi topeng monyet di Indonesia.
Subscribe to:
Posts (Atom)











